Ads 468x60px

Featured Posts Coolbthemes

FEUI Kembangkan Riset Bisnis Multidisiplin



Riset MultidisiplinBPUI-Riset bisnis yang diawali dengan pengembangan teori model modematik dilakukan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). FEUI menggandeng Pakar Fisika Kuantum (Quantum Physic) dari Universitas Telkom untuk membahas seluk beluk disruptive ecology yang berdampak pada bidang ekonomi.
Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat FEUI, Fithra Faisal Hastiadi, Ph.D., mengungkapkan bahwa riset dilakukan dengan dana hibah multidisiplin yang diajukan pihaknya ke UI. Berkat hibah tersebut, Fithra meminta rekannya, Agung Trisetyarso, Ph.D., yang merupakan pengajar di Fakultas Informatika, Universitas Telkom, untuk menyampaikan materi tentang bagaimana bidang teknologi menjelaskan secara matematis disruptive yang terjadi. Agung menggunakan sejumlah model antara lain solow-swan model of technological disruption. Dalam diskusi tersebut, Guru Besar FEUI, Prof. Dr. Emil Salim, turut hadir dan beberapa kali menyampaikan pertanyaan.
Menurut Faisal, pemaparan mengenai fisika kuantum untuk menjelaskan perubahan yang terjadi dalam bidang ekonomi adalah bagian dari upaya meningkatkan kapasitas keilmuan. Untuk tahap awal, kata dia, riset yang dilakukan berfokus pada pengembangan teori model matematik. Sementara itu, di tahun berikutnya, riset diarahkan untuk hal yang lebih bersifat aplikatif.
Ia menambahkan, riset tersebut akan menghubungkan FEUI dengan industri. “Untuk awal ini, kita belum menyentuh keterkaitan dengan industri, tapi sekarang bagaimana menyatukan ide ini sesuai dengan kebutuhan industri. Bagaimana mengkomersialisasikannya,” kata Fithra usai diskusi yang dilakukan di Ruang Rapat Soenario Kolopaking Gedung Dekanat FEUI, Selasa (17/2/2015).
Walaupun sejumlah riset unggulan terkait governance, poverty, public policy, micro finance telah dilakukan, Fithra menilai masih banyak ide penelitian yang ada di menara gading. Diharapkan lewat riset bisnis itu, publikasi yang dihasilkan pihaknya akan bertambah dan bermanfaat bagi pihak di lingkungan UI serta publik secara luas. (DPN)

Penelitian Doktor FKUI: Menghindarkan Terapi yang Tidak Perlu pada Pasien Hepatitis C


PromDokTerapi standar hepatitis C di Indonesia sampai saat ini masih berupa terapi berbasis kombinasi dua antibiotik, yaitu pegylated interferon dan ribavirin (Peg-IFN/RBV). Namun, terapi kombinasi dua obat ini memerlukan biaya yang besar serta efek samping yang tidak bisa dianggap remeh seperti anemia, cacat lahir, dan depresi. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian Andri Sanityoso terhadap variasi gen SNP IL-28B yang menurut beberapa pakar kedokteran mempunyai potensi untuk memprediksi keberhasilan terapi pengobatan hepatitis C, baik metode kombinasi antibiotik maupun metode antivirus kerja spesifik (direct acting antivirus; DAA).
Hasil penelitian ini ditulis Andri dalam disertasi berjudul “Hubungan SNP IL-28B Pejamu dengan Respons Virologis Menetap serta Kaitannya dengan Ekspresi Interferon –λ3 dan Reseptor Interferon –λ3 di Jaringan Hati pada Pasien Hepatitis C Kronik dengan Pengobatan Pegylated Interferon a2 dan Ribavirin.” Disertasi ini dipresentasikan dalam sidang promosi doktor pada Kamis (8/1/2015) lalu di Ruang Senat Akademik FKUI. Andri mendapatkan yudisium sangat memuaskan.
Single nucleotides polymorphism (SNP) IL-28B adalah bentuk variasi dalam urutan genetik. Variasi gen inimerupakan faktor genetik yang kerap muncul dan dicurigai memegang peran sentral atas perbedaan pencapaian SVR antar-ras. SVR adalah suatu metode tanggapan virologi berkelanjutan (sustained virological response) yang berusaha mengukur respons kesembuhan pasien dengan melakukan pendeteksian keberadaan virus beberapa hari setelah terapi dihentikan.
Berbeda dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, negara di Asia, terutama Asia Timur dan Asia Tenggara, memperlihatkan pencapaian SVR yang tinggi dengan kombinasi dua obat. Hal ini memunculkan suatu hipotesis adanya peran genetik yang melandasi perbedaan tersebut.
Dari penelitian terhadap gen SNP IL-28B, Andri mendapatkan persamaan untuk memprediksi pencapaian SVR. Hasil penggunaan gen SNP IL-28B di masa praterapi dapat menghindarkan pasien pada penggunaan terapi Peg-IFN/RBV yang tidak perlu sebesar 16—29%. Meskipun demikian, masih dibutuhkan validasi eksternal pada persamaan praterapi dan masa terapi pada penggunaan di waktu yang akan datang.
Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan SNP IL-28B pada masa praterapi dan masa terapi dapat memprediksi keberhasilan terapi dengan lebih tepat. Hal ini membuat jumlah pasien yang harus mendapatkan terapi tripel (Peg-IFN/RBV dan DAA) lebih sedikit dan pasien dapat terbantu dalam hal biaya pengobatan dan risiko efek samping. (WND)
Foto oleh: Humas FKUI