Ads 468x60px

Featured Posts Coolbthemes

Penelitian Doktor FKUI: Menghindarkan Terapi yang Tidak Perlu pada Pasien Hepatitis C


PromDokTerapi standar hepatitis C di Indonesia sampai saat ini masih berupa terapi berbasis kombinasi dua antibiotik, yaitu pegylated interferon dan ribavirin (Peg-IFN/RBV). Namun, terapi kombinasi dua obat ini memerlukan biaya yang besar serta efek samping yang tidak bisa dianggap remeh seperti anemia, cacat lahir, dan depresi. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian Andri Sanityoso terhadap variasi gen SNP IL-28B yang menurut beberapa pakar kedokteran mempunyai potensi untuk memprediksi keberhasilan terapi pengobatan hepatitis C, baik metode kombinasi antibiotik maupun metode antivirus kerja spesifik (direct acting antivirus; DAA).
Hasil penelitian ini ditulis Andri dalam disertasi berjudul “Hubungan SNP IL-28B Pejamu dengan Respons Virologis Menetap serta Kaitannya dengan Ekspresi Interferon –λ3 dan Reseptor Interferon –λ3 di Jaringan Hati pada Pasien Hepatitis C Kronik dengan Pengobatan Pegylated Interferon a2 dan Ribavirin.” Disertasi ini dipresentasikan dalam sidang promosi doktor pada Kamis (8/1/2015) lalu di Ruang Senat Akademik FKUI. Andri mendapatkan yudisium sangat memuaskan.
Single nucleotides polymorphism (SNP) IL-28B adalah bentuk variasi dalam urutan genetik. Variasi gen inimerupakan faktor genetik yang kerap muncul dan dicurigai memegang peran sentral atas perbedaan pencapaian SVR antar-ras. SVR adalah suatu metode tanggapan virologi berkelanjutan (sustained virological response) yang berusaha mengukur respons kesembuhan pasien dengan melakukan pendeteksian keberadaan virus beberapa hari setelah terapi dihentikan.
Berbeda dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, negara di Asia, terutama Asia Timur dan Asia Tenggara, memperlihatkan pencapaian SVR yang tinggi dengan kombinasi dua obat. Hal ini memunculkan suatu hipotesis adanya peran genetik yang melandasi perbedaan tersebut.
Dari penelitian terhadap gen SNP IL-28B, Andri mendapatkan persamaan untuk memprediksi pencapaian SVR. Hasil penggunaan gen SNP IL-28B di masa praterapi dapat menghindarkan pasien pada penggunaan terapi Peg-IFN/RBV yang tidak perlu sebesar 16—29%. Meskipun demikian, masih dibutuhkan validasi eksternal pada persamaan praterapi dan masa terapi pada penggunaan di waktu yang akan datang.
Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan SNP IL-28B pada masa praterapi dan masa terapi dapat memprediksi keberhasilan terapi dengan lebih tepat. Hal ini membuat jumlah pasien yang harus mendapatkan terapi tripel (Peg-IFN/RBV dan DAA) lebih sedikit dan pasien dapat terbantu dalam hal biaya pengobatan dan risiko efek samping. (WND)
Foto oleh: Humas FKUI

 

UI Rilis Peringkat Kampus Hijau Dunia


IMG_6695Jumat (16/1/2015), Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met., bersama Ketua UI GreenMetric, Prof. Riri Fitri Sari, mengumumkan data UI GreenMetric Ranking of World University 2014. UI GreenMetric adalah pemeringkatan perguruan tinggi terbaik berdasarkan pengelolaan lingkungan hidup kampus.
Rektor menyampaikan bahwa di tahun kelima penyelenggaraan UI GreenMetric terjadi peningkatan jumlah peserta dari yang sebelumnya 301 menjadi 360 perguruan tinggi. Beberapa negara yang baru bergabung antara lain Syria dan Sri Lanka.
UI GreenMetric 2014 memberikan penghargaan tertinggi kepada University of Nottingham, Inggris sebagai kampus hijau terbaik di dunia. University College Cork National University of Ireland menyusul di peringkat kedua dan Nottingham Trent University di peringkat ketiga. Sementara itu, perguruan tinggi di Indonesia yang berhasil masuk dalam pemeringkatan UI GreenMetric antara lain Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Negeri Semarang.
Pemeringkatan tersebut dilakukan berdasarkan beberapa indikator seperti statistik kehijauan kampus, pengelolaan sampah, energi dan perubahan iklim, penggunaan air, transportasi, dan pendidikan. Lembaga pemeringkatan UI GreenMetric telah menarik berbagai institusi serta universitas di dunia dan telah resmi diterima sebagai anggota IREG Observatory (International Ranking Expert Group) pada Konferensi IREG-6 pada April 2012.
Dengan diumumkannya kampus-kampus hijau terbaik di dunia ini, Rektor UI berharap terciptanya peningkatan kualitas lingkungan hidup, munculnya upaya penghematan energi, transportasi ramah lingkungan, dan berbagai upaya lainnya untuk mengantisipasi perubahan iklim global dan gas rumah kaca. (Humas UI)